Rumah Kandang

foto-gambar-cerpen-rumah-kandang
Ilustrasi

Ketika tanah di seberang lapangan bola dibeli orang, saya tak tahu tempat itu akan dibangun apa. Namun, tak lama setelah pemilik tanah dibayar, dibangunlah pagar tembok yang diselingi pagar besi di sekelilingnya. Di dalamnya juga dibangun sebuah rumah mewah. Kata orang yang ikut bekerja membangunnya, rumah tersebut akan menjadi tempat tinggal orang dari kota.
Saya tidak perlu terlalu lama untuk mengetahui siapa yang akan menempati rumah itu. Karena begitu rumah tersebut selesai dibangun, datanglah sebuah keluarga mengisinya. Keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri yang sudah setengah baya dan seorang pemuda. Tapi, sejalan dengan waktu, saya tak pernah lagi melihat pemuda itu ada di sana.
“Oh, dia tetap tinggal di Jakarta, di rumah kami yang dulu. Katanya biar dekat dengan kantornya,” kata lelaki yang menjadi kepala keluarga di rumah itu menjelaskan pada saat bersilaturahmi ke tempat saya.

Tanah di Ujung Jalan

foto-gambar-cerpen-tanah-di-ujung-jalan
Ilustrasi

Ada dua alasan yang membuat saya harus kembali tinggal di rumah orangtua setelah selama setahun kos. Pertama, ayah saya meninggal dunia. Itu otomatis membuat ibu jadi sendiri. Padahal, ibu butuh teman untuk mengusir sepi. Untuk itu saya pulang.
Kedua, karena saya anak satu-satunya ibu yang belum menikah. Kakak saya, Mila, sudah hidup bersama suaminya di Jambi. Jadi, tak mungkin dia balik ke tempat Ibu untuk menemaninya. Malah sebaliknya, dia sangat ingin membawa ibu serta ke tempat tinggalnya di Jambi sana.
Tetapi dengan santun, ibu menolaknya. Beliau tak ingin meninggalkan rumah keluarga yang telah dibangun ayah atas hasil usahanya bekerja sebagai guru di sebuah SD Negeri. Lagipula ibu sudah kerasan dengan lingkungan di sekitar rumah yang penuh dengan kekeluargaan.

Mereka Juga Tahu

foto-gambar-cerpen-mereka-juga-tahu
Ilustrasi

Aku ragu untuk datang sekolah. Suasananya pasti akan berubah drastis. Tidak seperti kemarin-kemarin. Pandangan teman-teman sekelas atau mungkin satu sekolah akan lain terhadapku. Mereka sudah tahu siapa aku sebenarnya.
Aku sendiri sempat shock membaca koran pagi ini. Headline koran itu jelas menohok kami sekeluarga. Membuka aib yang sudah lama membusuk. Aku jadi mual membacanya. Malah tidak hanya satu koran yang saja yang mengulas itu, tapi semua koran yang terbit bersamaan dengannya.