Membekali Anak dengan Softskill





Foto-kreativitas-anak
Softskill menumbuhkan kreativitas anak (Dok. Pribadi)

Softskill untuk anak? Memang perlu? Apa pentingnya?

Sebelum kita bicara soal itu, ada baiknya kita mengenal dulu apa itu softskill.

Softskill merupakan kemampuan individu dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal) dan hubungannya dengan orang lain (interpersonal) untuk mendukung kemampuan teknis yang dimiliki.

Boleh dikatakan seperti ini, orang yang memiliki kemampuan akademi tinggi belum tentu berhasil dalam mendapatkan posisi kerja yang diinginkannya. Itu bukan berarti banyaknya saingan, namun ada faktor individu yang tak disadari menjadi menyebab.

Faktor yang dimaksud itu adalah kemampuan yang berasal dari dalam diri, itulah softskill.

Softskill sendiri bisa dibagi dalam tiga kategori, yaitu Intrapersonal skillinterpersonal skill, dan Extrapersonal Skill.

Intrapersonal Skill

Kemampuan individu ini lebih menekankan pada kemampuan seseorang untuk mengatur dirinya sendiri. Misalnya, inisiatif, mengatur waktu, motivasi, berpikir kreatif, kemauan belajar, mandiri, beretika, disiplin, percaya diri, berpikir kritis, mengatasi stres, dan berkomitmen.

Interpersonal Skill

Berbeda dengan intrapersonal, Kemampuan ini akan membuat seseorang mudah menjalin hubungan dengan orang lain.

Kemampuan ini didukung oleh beberapa faktor antara lain: Mudah berkomunikasi, mampu membangun hubungan kerja sama, punya jiwa kepemimpinan, bisa bernegosiasi, mudah mempresentasikan pikirannya, dan mampu bicara di muka umum.

Extrapersonal Skill

Kemampuan yang ketiga ini adalah sebagai pelengkap dari dua kemampuan sebelumnya, yaitu bijaksana.

Terdengar remeh, tetapi nilai inilah yang mengikat kedua kemampuan lainnya dengan selalu menggunakan akal dan budi dalam mengambil keputusan.

Untuk mudahnya, bisa dikatakan bahwa kemampuan teknis atau hardskill berasal dari pembelajaran yang bersifat keilmuan, baik dari sekolah atau di tempat lainnya.

Misalnya, untuk menjadi seorang dokter, bisa dipelajari melalui tahapan kuliah dan praktik sampai mendapat pengakuan profesi.

Lalu, apa gunanya softskill bagi seorang dokter?

Seorang dokter yang memiliki kemampuan softskill akan mudah menjelaskan diagnosanya kepada pasien dan menjawab pertanyaan pasien tanpa sungkan.

Dia juga mudah beradaptasi dengan beragam latar belakang pasiennya, yang membuat pasien nyaman.

Selain itu, dia juga mampu memberi pelayanan prioritas kepada pasien yang dalam kondisi kritis tanpa mengabaikan pasien yang sudah antre duluan, sehingga tak ada yang merasa dirugikan. Semua sama-sama menerima.

Kembali ke soal anak, Softskill memang berperan penting pada keberhasilan seseorang dalam dunia kerja kelak. 

Itulah yang menjadi alasan banyak universitas membekali mahasiswanya dengan kemampuan softskill sebelum mereka lulus, seperti cara berkomunikasi dan menumbuhkan inisiatif.

Banyak juga pihak yang membuat seminar atau pelatihan untuk pengembangan softskill ini.

Lalu, apa hubungannya dengan anak-anak?

Harus diingat bahwa softskill tidak mudah untuk diajarkan, tapi gampang untuk ditularkan, sehingga pengembangan softskill sejak dini akan memudahkan seseorang untuk menguasainya.

Apalagi, sifat anak-anak selalu ingin meniru orang yang dikaguminya. Terutama orang terdekat, yaitu orangtua. Membiasakan anak melihat sikap orangtua akan memengaruhi sikap dan pola pikir anak.

Anak yang melihat orangtuanya selalu beribadah, peduli dengan tetangga yang mendapat kesulitan, mudah bergaul, disiplin akan terbentuk sikapnya untuk mengikuti perilaku orangtuanya.

Ada lima unsur softskill yang bisa dikembangkan pada anak-anak.

Inisiatif

Anak yang memiliki inisiatif akan selalu menemukan hal-hal baru untuk dilakukan. Biasanya anak ini akan melakukan berbagai hal tanpa ada perintah dari orangtua. Jadi, ketika ada PR dari sekolah tidak menunggu perintah lagi untuk mengerjaannya. Atau tanpa disuruh, akan segera membereskan mainan yang berserakan.

Disiplin

Dengan kedisiplinan, anak-anak akan tahu kapan waktu main dan kapan saatnya belajar. Anak yang biasa disiplin mudah untuk membagi waktu, sehingga akan menjadi bekalnya kelak ketika sudah bekerja.

Percaya diri

Percaya diri ini bisa dibentuk ketika orangtua memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan sendiri hal yang diinginkan. Kalau gagal kuatkan anak dan berilah semangat sehingga anak bisa memperbaiki dengan caranya sendiri, sehingga tumbuh rasa percaya di dirinya.

Bekerja sama

Masa anak-anak adalah saatnya bermain. Banyak permainan anak yang mengajarkan rasa kebersamaan dan keakraban

Keakraban dengan teman dalam bermain dan berkumpul di satu tempat akan mengikat anak-anak dalam satu ikatan solidaritas.

Anak yang mudah bekerja sama dengan temannya akan mudah menjalin hubungan kerja dengan orang lain ketika masuk dunia kerja nantinya.

Kepedulian

Ketika melihat orangtua berempati kepada orang yang mendapat kesulitan, anak akan melihat dan akan menjadi bagian dalam kehidupannya. Kepekaannya itu akan membentuk kepeduliannya pada lingkungan dan kepada orang yang mendapat kesusahan.

Kelima faktor softskill di atas bisa ditanamkan oleh orangtua secara alami kepada anak dengan memberikan kesempatan pada anak untuk berkreasi sesuai dengan inisiatifnya, menjaga kedisiplinannya dalam tiap kesempatan, dan memberi kepercayaan diri anak menunjukkan kemampuannya dalam bekerja sama dengan teman seusianya.

Tujuannya agar anak terdorong untuk selalu berbagi dan peduli kepada temannya yang mendapat kesulitan.

Kepedulian ini yang akan tertanam pada sikap anak dan terbawa dalam pergaulan di masyarakat ketika dewasa.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar