Cara Membiasakan Anak untuk Jujur





foto-anak-belajar-jujur
Membiasakan anak berproses dalam belajar (Dok. Pribadi)

Kejujuran menjadi karakter penting yang harus dimiliki seseorang dalam kehidupan. Orang yang bersikap jujur sudah berani untuk tidak berbohong, tidak curang, tidak menipu untuk kepentingannya sendiri. 

Jujur dalam kehidupan di masyarakat akan mengurangi adanya budaya korupsi yang akan menyengsarakan orang banyak.

Nilai kejujuran yang ada dalam sikap seseorang dapat membentuk potensi positif dalam pribadinya. 

Kejujuran bukan hanya dari perkataan, melainkan terwujud dalam perbuatan seseorang. Sehingga sikap dan perkataan yang diutarakan tidak berbeda dengan kata hatinya.

Orang jujur akan lebih tenang dalam menjalani kehidupannya, lebih mudah dipercaya orang, dan dijauhkan dari perbuatan jahat.

Dalam Islam, Rasulullah SAW telah bersabda, “Kalian harus berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan.” (Muslim:1818).

Demikian pentingnya nilai kejujuran, sehingga Departemen Pendidikan nasional memasukkannya menjadi salah satu dari 18 butir pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang sejak 2011 diterapkan di semua tingkat pendidikan di Indonesia.

Nilai kejujuran memang tidak dengan secara instan muncul dalam perilaku anak, perlu ada proses dan bimbingan yang terus menerus dan menjadi kebiasaan.

Kebiasaan untuk berbuat jujur adalah cara orangtua dalam membekali anak dengan softskill yang menjadi penunjang keberhasilan anak kelak.

Perhatian orangtua terhadap nilai kejujuran kepada anak dilakukan bukan dengan perintah dan ajakan, melainkan dengan contoh yang dilakukan sehari-hari di rumah.

Kenapa?


Seperti saya bilang di atas kalau kejujuran bisa melekat menjadi sikap hidup seseorang adalah melalui proses pengalaman yang yang dilaluinya.

Seorang anak tentu memiliki kedekatan dengan orangtuanya, baik fisik maupun emosinya. Indera seorang anak akan menangkap semua sikap yang diperlihatkan orangtuanya.

Menurut Dadang Hawari (2007:15) bahwa orangtua merupakan tokoh imitasi dan identifikasi anak terhadap orangtuanya.

Bagaimana cara membuat anak terbiasa jujur? Berikut adalah langkah yang bisa dilakukan orangtua di rumah:


Jangan menyepelekan janji


Ketika orangtua berjanji kepada anak untuk pergi ke satu tempat dan dengan mudahnya orangtua membatalkan sebab ada urusan lain, anak akan mencatat itu sebagai satu kebohongan.

Ketika orangtua sering melakukan itu, anak akan merasa hal itu adalah wajar dan kelak si anak akan mengulang melakukan itu kepada teman atau anaknya.

Satu kebohongan akan mengubah pribadi orang menjadi mudah berbuat curang. Mengganggap enteng janji. Hal yang berakibat orang mudah untuk tidak jujur.

Anak mudah diarahkan untuk jujur, asal  orangtua selalu melakukan itu di rumah. Seperti kasus janji yang dibatalkan tadi. Untuk orangtua itu adalah biasa, tapi kalau orangtua mau meluangkan waktu sebentar menepati janji kepada anaknya. Walaupun nanti orangtua harus pergi lagi sesuai keperluannya, anak akan mengerti.

Jadi, bukan janji lalu melupakan tanpa kabar, sehingga anak akan merasa dibohongi dan merekam itu sebagai hal yang biasa.

Kalau anak sudah menganggap itu biasa, maka dia akan juga melakukan hal yang sama kepada temannya. Meraka akan mudah mengingkari janji dengan temannya.

Kalau sudah terbiasa demikian, hal lain yang berkaitan dengan ketidakjujuran juga mudah terjadi. Anak akan mudah menyembunyikan perasaannya kepada orangtua.

Ini yang dikhawatirkan dan berpotensi bahaya. Kriminalitas terhadap anak-anak terjadi karena orangtua kebanyakan terlambat mengetahui kejadian yang menimpa anak-anaknya.

Selalu komunikasi


Tidak adanya komunikasi antara anak dan orangtua menjadi salah satu penyebab banyak anak menjadi korban kejahatan.

Sebelum terlambat, orangtua harus mengingatkan dirinya sendiri untuk menanamkan nilai kejujuran kepada anak-anaknya.

Kejujuran akan membuat anak senantiasa mengutarakan apa yang dirasakannya di dalam hati dan mudah berbagi cerita dengan orangtuanya.

Orangtua juga harus jujur menceritakan apa yang harus diceritakan kepada anak, tidak perlu menyembunyikan dan berusaha menepati janji yang sudah disepakati dengan anak.

Kebiasaan berkata jujur di rumah akan terbawa dalam kehidupan anak di lingkungannya, baik dalam permainan atau di sekolah.

Anak akan mudah menceritakan kepada orangtua apa yang dirasa membahayakan dirinya kala ada oknum yang ingin berbuat jahat, yang nantinya akan diantisipasi oleh orangtua untuk mengambil tindakan demi  melindungi anak-anaknya.

Kejujuran memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan sebab masih banyak orang yang tidak suka mengetahui ketika kejujuran diutarakan. Tetapi, dengan kejujuran yang dibiasakan antarindividu akan membentuk sebuah masyarakat yang saling menghargai.

Tidak menyontek


Orangtua baiknya membiasakan kepada anak-anak untuk menghargai hasil kemampuan sendiri di sekolah, sehingga mereka mereka tahu dan mengerti tujuan dari belajar. 

Anak-anak akan mengerti kalau belajar itu merupakan proses usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan latihan-latihan, jadi bukan sesuatu yang sekejab tahu atau instan bisa untuk sekadar mendapat nilai bagus.


Dengan demikian, mereka akan terbebani ketika sudah menyontek pekerjaan rumah temannya atau mengutip jawaban teman sebangku saat ujian berlangsung.

Anak yang menghargai hasil pekerjaan akan merasa bangga ketika berhasil mendapat prestasi di sekolah.

Melupakan nyontek, belajar dengan menjunjung nilai-nilai kejujuran untuk tujuan mengerti dan memahami pengetahuan akan berbuah manis pada akhirnya.

Ke depannya, tatkala kejujuran sudah menjadi gaya hidup, orang akan  menjauhi tradisi melakukan penjiplakan karya atau plagiat yang mengerdilkan pengetahuan.

Tiga poin di atas akan dirasakan pengaruhnya ketika sudah menjadi gaya hidup atau kebiasaan dalam hubungan orangtua dan anak di semua keluarga.


Tidak ada yang tidak mungkin untuk menjadikan generasi mendatang tumbuh menjadi generasi yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, asal sejak dini sudah dibangun lingkungan yang membiasakan anak untuk jujur.

4 komentar:

  1. Jangan menyepelekan janji. Ini memang yang sering kami lakukan baik tak sengaja mau sengaja. Terima kasih telah mengingatkan. Salam. ira, keluarga pelancong

    BalasHapus
  2. @ira Begitulah :) Contoh yang diberikan orangtua akan membuat anak terbiasa untuk menjaga nilai jujur hingga dewasa...
    Makasih sudah mampir... :)

    BalasHapus
  3. terima kasih telah mengingatkan. ini pas banget buat emak2 yang sering ngasi janji xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Naqiyyah Syam

      Sama-sama, itu sedikit cara untuk membentuk anak sesuai keinginan ortu dari pada anak mencari sendiri idolanya dan mungkin salah gaul.

      Makasih juga udah mampir. :)

      Hapus